Sistem Manajemen Mutu II, Pertemuan 14
Program Studi D4 Teknologi Laboratorium Medik, Universitas Syedza Saintika
Sub-CPMK-14 (RPS): Melakukan kuis tentang penjaminan mutu pelayanan kesehatan dan laboratorium untuk diagnostik penyakit menular dan tidak menular.
Penjaminan mutu tidak berhenti di alat, tetapi sampai hasil dipahami dokter.
| Tahap | Contoh kendali mutu |
|---|---|
| Pra-analitik | Persiapan pasien, identifikasi, kondisi sampel |
| Analitik | Kontrol internal, uji profisiensi, verifikasi metode, kalibrasi |
| Pasca-analitik | Validasi hasil, pelaporan, komunikasi hasil kritis, rekam medis |

Foto: Wikimedia Commons

Foto: Wikimedia Commons
Angka 3% terdengar kecil, tetapi berarti 3 dari 100 orang dinyatakan HIV padahal tidak.

Johnson dkk., 2017, Gambar 2, CC BY 3.0 IGO
| Penyebab | Jumlah studi | Contoh |
|---|---|---|
| Strategi atau algoritme tes kurang tepat | 37 | Satu tes cepat untuk memastikan positif, strategi tiebreaker |
| Kesalahan pengguna | 25 | Membaca hasil terlalu cepat, salah meneteskan buffer |
| Manajemen dan supervisi lemah | 21 | Kit kedaluwarsa, stok habis, petugas kurang terlatih |
| Faktor lain | 18 | Reaksi silang, infeksi dini, tes ulang pada pasien ARV |
| Kesalahan administrasi | 16 | Salah label, sampel tertukar, pencatatan buruk |
| Garis reaktif lemah | 14 | Garis samar yang sulit ditafsirkan |
EQA yang berjalan bertahun-tahun memperlihatkan arah perbaikan mutu lintas laboratorium.

Foto: Wikimedia Commons
| Kriteria | Target NCEP | Batas sertifikasi CDC |
|---|---|---|
| Bias | ≤ 3,0% | ≤ 3,3% |
| Impresisi (CV antar-run) | ≤ 3,0% | ≤ 3% |
| Galat total satu pengukuran | 8,9% | ≤ 8,9% |
Mutu kolesterol tidak dinilai dengan perasaan, tetapi dengan batas bias dan CV yang tertulis.
Perempuan 76 tahun dengan diabetes tipe 2 lebih dari 15 tahun datang untuk kontrol rutin tanpa keluhan. Glukosa plasma puasa 190 mg/dL, tetapi HbA1c (HPLC) hanya 4,1%. Pemeriksaan ulang: glukosa 236 mg/dL, HbA1c 4,5%. Selama empat tahun, HbA1c selalu di bawah 5%.
Dua pasien dari sebuah klinik satelit dinyatakan reaktif oleh tes cepat, tetapi hasil di laboratorium rujukan nonreaktif. Kedua tes dikerjakan petugas yang sama pada sore hari, dengan kit dari lot yang baru datang.
RPS TLM OBE-139b, Sub-CPMK-14
Penilaian mutu dari pihak luar. Penyelenggara mengirim sampel yang nilainya tidak diketahui peserta. Laboratorium memeriksanya seperti sampel pasien, lalu hasilnya dibandingkan dengan nilai target atau dengan hasil laboratorium lain. Di Indonesia dikenal sebagai Pemantapan Mutu Eksternal (PME).
Contoh: Laboratorium menerima serum kontrol dari penyelenggara PME tiga kali setahun, memeriksa glukosa dan kolesterolnya, lalu mengirim hasilnya untuk dinilai.
Hasil pemeriksaan yang menunjukkan keadaan yang dapat mengancam jiwa sehingga harus segera dilaporkan kepada dokter atau perawat, bukan menunggu laporan rutin.
Contoh: Kalium 7,0 mmol/L langsung ditelepon ke ruang rawat, lalu dicatat siapa yang menerima dan jam berapa.
Positif palsu adalah hasil positif pada orang yang sebenarnya tidak sakit. Negatif palsu adalah hasil negatif pada orang yang sebenarnya sakit.
Contoh: Tes cepat HIV reaktif, tetapi pemeriksaan lanjutan sesuai algoritme menyatakan negatif: itu positif palsu.
Laboratorium dengan tingkat keamanan hayati 3, untuk bekerja dengan kuman yang menular lewat udara dan dapat menyebabkan penyakit serius, misalnya kultur M. tuberculosis.
Contoh: Biakan TB untuk panel uji profisiensi biasanya harus dibuat di laboratorium BSL-3.
Median adalah nilai tengah data setelah diurutkan. IQR (rentang antarkuartil) adalah rentang yang memuat 50% data bagian tengah.
Contoh: Data 2, 3, 5, 8, 20 punya median 5; nilai 20 tidak menarik median seperti ia menarik rerata.
Pada tes HIV bertahap, bila dua tes pertama memberi hasil berbeda, tes ketiga dipakai sebagai “penentu”. Cara ini dinilai meningkatkan risiko positif palsu.
Contoh: Tes 1 reaktif, tes 2 nonreaktif, lalu tes 3 reaktif dan pasien dinyatakan positif; padahal hasil seharusnya ditindaklanjuti sesuai algoritme yang divalidasi.
Presisi adalah kedekatan hasil pengukuran berulang satu sama lain. Impresisi adalah kebalikannya, yaitu besarnya sebaran, dan biasanya dinyatakan dengan SD atau CV.
Contoh: Sampel yang sama diperiksa lima kali memberi 99, 100, 101, 100, 100: presisinya baik.
Selisih antara rerata hasil pengukuran dan nilai benar atau nilai target. Bias menunjukkan kesalahan sistematik.
Contoh: Bahan acuan bernilai 200 mg/dL, rerata hasil kita 206 mg/dL, jadi bias +6 mg/dL atau +3%.
NGSP adalah program standardisasi HbA1c yang mengaitkan hasil laboratorium dengan studi klinis DCCT. IFCC adalah federasi internasional kimia klinik yang menetapkan metode acuan HbA1c. Hasil NGSP dinyatakan dalam persen, IFCC dalam mmol/mol.
Contoh: HbA1c 53 mmol/mol (IFCC) setara sekitar 7,0% (NGSP).
Simpangan baku dibagi rerata, dikali 100%. CV menyatakan presisi dalam persen sehingga bisa dibandingkan antar konsentrasi atau antar metode.
Contoh: Rerata 100 mg/dL dan SD 2 mg/dL memberi CV 2%.
Gabungan bias dan impresisi dalam satu hasil pemeriksaan. Salah satu rumus yang sering dipakai: galat total = |bias| + 1,96 × CV.
Contoh: Bias 3% dan CV 3% memberi galat total sekitar 3 + 1,96 × 3 = 8,9%.
High performance liquid chromatography: teknik yang memisahkan komponen sampel berdasarkan waktu keluarnya dari kolom. Untuk HbA1c, HPLC memisahkan fraksi-fraksi hemoglobin.
Contoh: Puncak tidak biasa pada kromatogram HPLC menjadi petunjuk adanya varian hemoglobin.

Sistem Manajemen Mutu II · Prodi D4 TLM Universitas Syedza Saintika