Sistem Manajemen Mutu II, Pertemuan 6
Program Studi D4 Teknologi Laboratorium Medik, Universitas Syedza Saintika
Sub-CPMK-06 (RPS): Menunjukkan partisipasi aktif dalam diskusi troubleshooting masalah mutu laboratorium.
Mengulang pemeriksaan sampai kontrol lolos bukan troubleshooting.

Foto: Wikimedia Commons
Diagram buatan sendiri.
Setengah dari penelusuran adalah mengajukan pertanyaan yang tepat.
| Pola | Dugaan penyebab yang perlu diperiksa |
|---|---|
| Titik melompat tiba-tiba (acak) | Gelembung udara, jarum pipet tersumbat, kuvet kotor, pengenceran kontrol keliru |
| Pergeseran bertahap (sistematik) | Lot reagen baru, kalibrasi, suhu atau penyimpanan, bahan kontrol rusak |
| Semua pemeriksaan terganggu | Sumber daya atau sistem: listrik, suhu ruangan, air |
| Hanya sampel tertentu | Masalah pra-analitik: tabung, hemolisis, volume |
Diadaptasi dari Ialongo, 2025
QC normal tidak menjamin hasil benar; masalahnya bisa di tahap pra- atau pasca-analitik.
Kontrol kolesterol tingkat normal dan abnormal sama-sama bergeser naik sejak Senin. Hari Senin pagi, botol reagen baru dari lot yang berbeda mulai dipakai.
Hari ini satu kontrol glukosa melewati +3 SD. Semua kontrol dan semua hasil pada hari-hari sebelumnya normal. Setelah diulang, kontrol kembali normal.
Dalam dua minggu terakhir, sampel dari satu ruang rawat inap sering hemolisis. QC alat normal. Sampel dari ruang lain jarang bermasalah.
RPS TLM OBE-139b, Sub-CPMK-06
Sekumpulan aturan untuk memutuskan apakah hasil kontrol diterima atau ditolak berdasarkan pola titik pada bagan Levey-Jennings. Nama aturan menunjukkan jumlah titik dan batasnya; 1-3s berarti satu titik melewati 3 SD.
Contoh: Dua titik berturut-turut di atas +2 SD melanggar aturan 2-2s, tanda kesalahan sistematik.
Hasil pemeriksaan yang menunjukkan keadaan yang dapat mengancam jiwa sehingga harus segera dilaporkan kepada dokter atau perawat, bukan menunggu laporan rutin.
Contoh: Kalium 7,0 mmol/L langsung ditelepon ke ruang rawat, lalu dicatat siapa yang menerima dan jam berapa.
Diagram pohon dari satu kejadian masalah ke penyebab-penyebabnya, memakai gerbang logika DAN (semua penyebab harus terjadi) dan ATAU (satu penyebab cukup).
Contoh: Hasil salah dilaporkan ATAU karena salah input, ATAU karena kontrol gagal DAN tidak ada yang memeriksa.
Diagram tulang ikan (diagram Ishikawa) untuk memetakan kemungkinan penyebab masalah dalam beberapa kategori, misalnya manusia, metode, alat, bahan, lingkungan, dan spesimen.
Contoh: Masalah “kontrol di luar batas” ditulis di kepala ikan, kemungkinan penyebabnya ditulis di tiap tulang.
Cara menelusuri akar penyebab dengan bertanya “mengapa” berulang kali sampai ditemukan penyebab yang bisa diperbaiki oleh sistem.
Contoh: Mengapa kontrol ditolak? Langkah terlewat. Mengapa? Analis belum dilatih. Mengapa? Metode belum ada di dokumen pelatihan.
Corrective and preventive action: tindakan koreksi untuk memperbaiki masalah yang sudah terjadi dan tindakan pencegahan agar tidak terulang.
Contoh: Koreksi: melatih ulang analis. Pencegahan: setiap metode baru wajib masuk dokumen pelatihan sebelum dipakai.

Sistem Manajemen Mutu II · Prodi D4 TLM Universitas Syedza Saintika