Sistem Manajemen Mutu II, Pertemuan 2
Program Studi D4 Teknologi Laboratorium Medik, Universitas Syedza Saintika
Sub-CPMK-02 (RPS): Menganalisis sistem monitoring mutu pada tahap pra-analitik, analitik, dan pasca-analitik.
Sesuatu yang tidak diukur sulit diperbaiki.
Diagram buatan sendiri.
| Titik kritis | Yang dipantau |
|---|---|
| Permintaan | Kelengkapan data pasien dan jenis pemeriksaan |
| Persiapan pasien | Puasa atau waktu pengambilan sesuai syarat pemeriksaan |
| Pengambilan | Identitas dan label, jenis tabung, volume, hemolisis |
| Transportasi | Waktu dan suhu pengiriman |
| Penerimaan | Sampel ditolak dan alasannya |

Foto: Wikimedia Commons
Detail QC internal dan eksternal kita bahas pada pertemuan 5.
| Titik kritis | Yang dipantau |
|---|---|
| Validasi hasil | Hasil dicek terhadap data pasien dan kontrol sebelum dirilis |
| Pelaporan | Ketepatan penulisan, satuan, dan nilai rujukan |
| Nilai kritis | Apakah dilaporkan ke dokter dan berapa lama |
| Waktu tunggu | Dari sampel diterima sampai hasil dilaporkan |
| Koreksi laporan | Berapa laporan yang harus diperbaiki setelah dirilis |
| Indikator | Cara menghitung | Tahap |
|---|---|---|
| Persentase sampel ditolak | (sampel ditolak / sampel diterima) × 100% | Pra |
| Persentase sampel hemolisis | (sampel hemolisis / sampel diterima) × 100% | Pra |
| Persentase QC di luar batas | (kejadian QC ditolak / seluruh QC) × 100% | Analitik |
| Waktu tunggu hasil | Waktu laporan dikirim dikurangi waktu sampel diterima | Pasca |
| Persentase laporan dikoreksi | (laporan dikoreksi / laporan dirilis) × 100% | Pasca |
| Pra-analitik |
|---|
| Kesalahan identifikasi pasien |
| Permintaan pemeriksaan tidak tepat |
| Kesalahan transkripsi permintaan |
| Permintaan tidak terbaca |
| Jenis sampel salah |
| Volume pengisian salah |
| Sampel tidak layak untuk transportasi dan penyimpanan |
| Sampel terkontaminasi |
| Sampel hemolisis |
| Sampel membeku |
| Waktu pengambilan sampel tidak tepat |
| Analitik |
|---|
| Pemeriksaan tanpa cakupan QC internal |
| Kinerja QC internal tidak dapat diterima |
| Pemeriksaan tanpa cakupan EQA atau uji profisiensi |
| Kinerja EQA atau uji profisiensi tidak dapat diterima |
| Kesalahan transkripsi data |
| Pasca-analitik |
|---|
| Waktu tunggu hasil tidak tepat |
| Laporan laboratorium salah |
| Pemberitahuan hasil kritis |
| Komentar interpretatif |
Cadamuro dkk., 2018, Tabel 1 (terjemahan), CC BY-NC-ND 4.0
Data yang dicatat asal-asalan menghasilkan kesimpulan yang asal-asalan.
| Alasan penolakan | Jumlah |
|---|---|
| Hemolisis | 18 |
| Volume tidak cukup | 11 |
| Identitas tidak sesuai | 6 |
| Tabung salah | 5 |
| Total ditolak | 40 dari 4.000 sampel |
Data ilustrasi untuk latihan.

Dua penyebab teratas sudah mencakup sekitar 73% penolakan.
Data ilustrasi latihan; grafik dibuat dengan qicharts2
RPS TLM OBE-139b, Sub-CPMK-02
Hasil pemeriksaan yang menunjukkan keadaan yang dapat mengancam jiwa sehingga harus segera dilaporkan kepada dokter atau perawat, bukan menunggu laporan rutin.
Contoh: Kalium 7,0 mmol/L langsung ditelepon ke ruang rawat, lalu dicatat siapa yang menerima dan jam berapa.
Lama waktu dari sampel diterima laboratorium sampai hasil dilaporkan. Dalam bahasa Inggris disebut turnaround time (TAT).
Contoh: Sampel cito diterima pukul 08.00 dan hasil dikirim pukul 08.50: waktu tunggu 50 menit.
Ukuran yang dihitung secara berkala dari data rutin untuk memantau mutu layanan laboratorium.
Contoh: Persentase sampel ditolak per bulan, atau waktu tunggu hasil pemeriksaan cito.
Penilaian mutu dari pihak luar. Penyelenggara mengirim sampel yang nilainya tidak diketahui peserta. Laboratorium memeriksanya seperti sampel pasien, lalu hasilnya dibandingkan dengan nilai target atau dengan hasil laboratorium lain. Di Indonesia dikenal sebagai Pemantapan Mutu Eksternal (PME).
Contoh: Laboratorium menerima serum kontrol dari penyelenggara PME tiga kali setahun, memeriksa glukosa dan kolesterolnya, lalu mengirim hasilnya untuk dinilai.

Sistem Manajemen Mutu II · Prodi D4 TLM Universitas Syedza Saintika